Nama : Putri Arinda Ayu

NIM : 20413244019

Matkul : KKL

Prodi : Pendidikan Sosiologi B

 

Penerapan Belajar di Rumah (BDR) di Dusun Tamantirto Kasihan Bantul

 

Pada akhir tahun 2019, dunia digemparkan dengan menyebarnya virus Covid-19 (Corona Virus Disease-19), virus ini di awal mula disebarkan di daerah Wuhan China yang dimana pada akhirnya menyebar keseluruh dunia termasuk Indonesia. Di Indonesia sendiri mengakibatkan semua bidang  kehidupan masyarakat mengalami dampak yang sangat besar akibat Covid-19 ini. Dimana dari bidang industri, ekonomi, agama, dan pendidikan, yang dimana salah satu paling penting yaitu sektor pendidikan yang dimana mengakibatkan penutupan semua sekolah untuk mencegah penyebaran Covid-19. Dalam hal ini juga pemerintah serta kemendikbud langsung mengambil tindakan dengan mengeluarkan surat keputusan yang berisi, Surat Edaran Mendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang Penjegahan COVID-19 pada Satuan Pendidikan, dan Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tentang Pembelajaran secara Daring dan Berkerja dari Rumah dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19). Akan tetapi dengan keadaan yang terus membaik dan penyebaran terus berkurang, pemerintah sepakat untuk memberikan kabar terbaik bagi bidang pendidikan yaitu daerah yang zona hijau telah memperbolehkan pihak sekolah untuk membuka dan menerapkan pembelajaran luring terbatas dengan selalu menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat.

Pengertian Pembelajaran Daring dan Luring

Pembelajaran daring dan luring merupakan pola pembelajaran di era teknologi informasi seperti sekarang ini. Daring merupakan singkatan dari “dalam jaringan” yang artinya pembelajaran daring merupakan pembelajaran yang dilakukan secara online atau tidak bertatap muka secara langsung melainkan dengan menggunakan platform yang telah tersedia. Sistem pembelajaran secara daring ini dilakukan dengan menggunakan bantuan aplikasi berupa Google Classroom, Google Meet, Zoom, dan lain sebagainya. Tujuan dari pembelajaran daring yaitu menciptakan pola pembelajaran yang modern sehingga menciptakan generasi yang melek teknologi, melatih siswa ataupun mahasiswa untuk memiliki kreativitas tinggi dan melihat masalah dari berbagai sisi, serta mampu mengembangkan keterampilan yang baru. Sedangkan, kebalikan dari pembelajaran daring yaitu pembelajaran luring. Luring merupakan singkatan dari “luar jaringan” yang artinya pembelajaran luring merupakan sistem pembelajaran yang dilakukan dengan bertatap muka secara langsung di suatu instansi pendidikan. Pembelajaran luring merupakan pembelajaran yang selama ini diterapkan di Indonesia. Namun, dikarenakan adanya pandemi Covid-19, sistem pembelajaran pun terpaksa harus dialihkan ke sistem pembelajaran daring. Hal ini tentunya menimbulkan banyak terjadinya perubahan pada aspek pendidikan. Peralihan sistem pembelajaran dari luring ke daring pun tentunya berdampak bagi masyarakat, dampak tersebut dibagi menjadi dampak positif dan negatif dari pembelajaran daring.

Pembelajaran daring juga memiliki sisi negatif dan positif sendiri, dimana dampak negatif dari pembelajarn daring yaitu pembeljaran daring dinilai kurang efektif dan efisien yang dimana beberapa anak mengalami kesulitan dalam memahami materi yang hanya disampaikan dalam bentuk video, powepoin, dan kelas online, selanjutnya keterampilan dalam menggunakan teknologi, masih banyak pelajar yang masih binggung dalam menggunakan media pembelajaran seperti Zoom, Googleclassroom, Googlemeet, dan lain sebagainya. Tidak memulu sisi negatif, adanya pembelajaran daring ini juga memiliki sisi positif seperti anak memiliki banyak watu dengan keluarga, metode belajar yang variatif, anak peka dan beradaptasi dengan perubahan, dan mau atau tidak, anak pasti harus mengeksplorasi teknologi.

Pelaksanaan belajar di rumah yang sudah hampir 1 tahun lebih ini yang dimulai dari bulan Maret 2020 hingga sampai saat ini masih menimbulkan permaslahan. Penerapan belajar di rumah oleh kalangan TK, SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi. Seperti di daerah saya masih banyak sekolah-sekolah yang harus melakukan pembelajaran di rumah. Belajar di rumah atau BDR di sekitar wilayah saya masih menyisahkan maslaha sampai saat ini.

Pada kalangan SD, SMP, dan SMA, khususnya SD para orang tua memulai melayangkan protes karena mereka merasa kerepotan dengan banyaknya tugas anak mereka yang hanya diberikan oleh guru mereka tampa adanya penjelasan yang lebih mendalam. Mereka menyanganakan kepada guru karena materi dan tugas sekolah hanya diberikan secara mentah tanpa tau benyak anak-anak yang kemampuannya berbeda-beda sehingga mengerjakanya belum secara maksimal. Apalagi usia anak SD sangatlah membutuhkan dampingan dan arahan dari guru atau orang tua. Akan tetapi masih banyak para orang tua memiliki kemampuannya berbeda-beda, yang dimana ada beberapa dari mereka yang memiliki riwayat pendidikan yang rendah sehingga mereka tidak mampu untuk mengajarkan anak-anak mereka karena tidak paham materi, serta adapula orang tua yang sibuk berkerja dan mencari nafkah untuk keluargannya sehingga tidak memiliki waktu untuk mendampingin secara langsung anak-anak mereka dalam melakukan pembelajaran di rumah. Untuk kalangan SMP dan SMA menurut saya tidak telalu membutuhkan peran orang tua, karena mereka sudah cukup bisa untuk memahami keadaan dan apa yang harus mereka lakukan. Akan tetapi tetap mereka juga butuh dampingan orang tua untuk memantau anak-anak mereka dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Masalah yang juga sering dihadami mereka yaitu memahami materi yang diberikan guru hanya sebatas video serta power poin, yang dimana para guru tidak menjelaskan secara tatap maya menggunakan zoom meeting atau google meet. Selain itu masalah kuota internet dan jaringan internet pun juga menjadi masalah dikalangan pelajar SMP dan SMA yang dimana kadang mereka membutuhkan kuota banyak untuk proses belajar dan tidak setabilnya jaringan interner. Yang terakhir maslah yang dialami para pelajar SMP dan SMA yaitu tugas-tugas yang diberikan oleh guru mereka tidak sebanding yang diberikan guru.

Setelah beberapa bulan bahkan tahun keadaan mulai membaik dan penyebaran virus Covid-19 perlaham berkurang, dengan itu pemerintah langsung mengambil sikap dan keputusan untuk memberbolehkan pembelajaran tatap muka terbatas dengan menerapkan protokel yang ketatserta daerah sekolah tersebut telah masuk zona hijau. Pemerintah juga berharap diperbolehkannya pemebelajaran tatap muka terbatas ini sebagi awal mulai yang bagus dalam bidang pendidikan.

          Dengan itu beberapa sekolah yang telah memiliki lampu hijau untuk melaksanakan pembejaran luring yang dimana sebagai contoh di SD 1 Padokan, SMP N 2 Kasihan, dan SMA N 1 Kasihan. Telah melaksanakan Pembelajarn Tatap Muka (PTM) terbatas, menurut info yang saya dapat dari beberapa pelajar tersenbut. Pelaksanaan Tatap Muka terbatas ini dilakukan secara ber-shift yang dimana dibagi menjadi dua yaitu pagi dan siang, hal ini dilakukan oleh pihak sekolah untuk tidak menimbulkan kerumunan yang banyak. Pada Pembelajaran Tatatp Muka ini sekolah tidak berani berlama-lama dalam proses PTM yang dimana PTM ini hanya dilakukan 2-3 jam saja dan PTM ini hanya dilakukan setiap 1-3x seminggu, kemudian mata pelajaran selanjutnya dilakukan dengan metode daring di rumah masing-masing. Syart untuk bisa melakukan PTM di sekolah mereka para pelajar harus mendapatkan persetujuan orang tua terlebig dahulu, sudah melaksanakan vaksinasi, persetujuan Satgas Covid di dusun setempat, dan keadaan tubuh yang sehat.

Menurut pandang saya penerapan belajar di rumah yang dilakukan di sekitar tempat tinggal saya masih kurang efektif karena masih banyak kekurangan dan keterbatasan dalam proses belajar seperti kemampuan individu yang berbeda-beda dalam memahami materi serta fasilitas kuota internet dan jaringan internet yang masih banyak masalah. Dengan ini juga saya berharap pihak sekolah dan pemerintah setempat selalu memperhatikan masalah-masalah yang sering dialami para pelajar dalam proses pembelajaran di rumah.

 

 

Komentar